Archive by Author | Hafiz Rahman

Memahami dan Memperpanjang Rentang Hidup Baterai Laptop

Semua yang pernah punya laptop (dan dalam skala lebih luas, smartphone), tentu pernah merasakan bahwa daya tahan baterainya melemah setelah sekitar satu tahun atau lebih. Yang tadinya tahan tiga jam, sekarang tinggal tahan setengah jam.

Secara alami, sebuah baterai memang akan kehilangan kapasitas dengan berjalannya waktu. Berikut adalah data dan langkah-langkah yang bisa kita ambil untuk memperlambat berkurangnya kapasitas tersebut, sehingga sebuah baterai dapat kita pakai seawet dan selama mungkin.

Catatan: Pada tulisan ini baterai yang kita bahas adalah baterai yang bertipe lithium ion atau biasa disingkat Li-ion. Beberapa laptop dan hape yang pernah saya miliki semuanya bertipe ini, jadi hanya tipe ini yang saya kumpulkan infonya. Tulisan ini tidak akan membantu untuk baterai tipe lain.

Fakta 1: Setiap baterai memiliki batas charge cycle

Charge cycle adalah perhitungan satu kali penggunaan kapasitas sebuah baterai hingga habis. Contoh menghitungnya seperti ini: jika sebuah baterai digunakan hingga separuh, lalu diisi hingga penuh, lalu digunakan lagi hingga separuh, maka total charge cyclenya adalah 1. Charge cycle tidak mengindahkan berapa kali charging dilakukan, yang terpenting adalah total kapasitas baterai yang dipakai. (Sumber)

Secara umum, usia sebuah baterai adalah antara 300-500 charge cycle. Total charge cycle untuk sebuah baterai dapat diperpanjang dengan cara memperkecil penggunaan kapasitas baterai sebelum dicharge kembali. Contoh: Pemakaian 75% → charge penuh → 75% → charge penuh → 75% → dapat memperpanjang total charge cycle dibandingkan pemakaian 50% → charge penuh → 50% → (Sumber)

Fakta 2: Semua baterai pasti berkurang kapasitasnya

Tingkat penurunan kapasitas baterai

Dengan pola penggunaan yang umum, sebuah baterai akan menyisakan sekitar 70% kapasitasnya setelah satu tahun. (Sumber)

Fakta 3: Panas dan seberapa banyak baterai terisi mempengaruhi usianya

Dalam sebuah percobaan, baterai yang terisi 100% lalu dilepas dan disimpan, akan lebih cepat kehilangan kapasitas daripada baterai yang hanya terisi 40% lalu dilepas dan disimpan dalam suhu yang sama.

Selanjutnya, apabila baterai disimpan dalam suhu yang tinggi, tingkat penurunan kapasitas menjadi lebih cepat. Baterai yang terisi 100% dan disimpan dalam suhu 60 C mengalami penurunan paling cepat. (Sumber)

Sejatinya, satu lagi faktor yang mempengaruhi usia baterai adalah tegangan charger, tetapi di sini sengaja tidak kita bahas karena secara umum tidak praktis untuk mengubah-ubah tegangan yang ada di charger kita.

Fakta 4: Hasil penelitian yang lain

  • Tidak ada masalah baterai dicharge ketika pada level kapasitas berapapun
  • Mengisi baterai hingga penuh tidak berperan menjaga keawetan baterai
  • Baterai paling awet jika kapasitasnya terus dijaga antara 20%-80%.

Langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk menjaga keawetan baterai

Menurut Apple, penggunaan baterai yang ideal adalah yang bervariasi antara kondisi charging dan kondisi penggunaan baterai. Contoh yang ideal adalah jika laptop digunakan menggunakan baterai dalam perjalanan ke kantor, lalu di kantor penggunaannya sembari di-charge.

Tetapi tentu hal ini bergantung pada bagaimana kita akan menggunakan laptop tersebut, yang tentu berbeda kasus tiap orang. Berikut kumpulan tips yang disimpulkan dari data-data di atas:

  • Semakin sering baterai dipakai, semakin banyak life cyclenya, sehingga usianya pun lekas berkurang.
  • Untuk memperpanjang cycle count, jangan menggunakan baterai sampai habis baru dicharge. Idealnya, pada kapasitas 20% baterai sudah dicharge kembali.
  • Jika perlu menggunakan baterai tetapi tidak membutuhkan kapasitas maksimum, baterai tidak perlu diisi hingga penuh. Kapasitas 80% adalah level maksimum yang ideal untuk menjaga keawetan baterai.
  • Jika baterai tidak dibutuhkan sama sekali (misalkan laptop khusus dipakai sebagai pengganti desktop di meja kerja), sisakan kapasitas baterai sebesar 40%, lalu lepas dan simpan di tempat yang dingin dan kering. Untuk penyimpanan yang lama, setiap satu bulan sekali baterai perlu diisi dan dipakai.
  • Apabila tersedia, gunakan aplikasi power manager yang dapat menjaga batas level charging antara 20%-80%. Saya menggunakan Thinkpad yang kebetulan menyediakan aplikasi untuk ini. Sayangnya saya belum menemukan sebuah aplikasi yang dapat dipakai untuk semua tipe laptop.
  • Selalu jaga baterai dalam kondisi dingin. Idealnya gunakan pendingin laptop. Apabila menggunakan laptop untuk aplikasi yang berat dan berpotensi memanaskan hardware (misalkan bermain game), ada baiknya jika baterai dilepas.
  • Jika menggunakan listrik AC, apakah baterai harus dilepas? Tergantung. Apabila baterai sudah berada antara kapasitas 20%-80%, tidak mengapa jika dilepas. Ini terutama untuk mencegah baterai terisi hingga 100% pada laptop yang tidak memiliki power manager yang dapat menjaga batas level charging. Jika laptop punya power manager,baterai tidak harus dilepas.
  • Di sisi lain, melepas baterai berarti lebih beresiko laptop kita mati apabila terjadi mati listrik. Baterai yang terpasang dalam kapasitas penuh sementara kabel AC terpasang tidak berpotensi merusak laptop, karena charger laptop pada umumnya sudah didesain untuk berhenti charging jika baterai telah penuh.

Sumber

Tulisan ini sengaja tidak menyertakan detail-detail penelitian dan menitikberatkan pada langkah-langkah praktis. Untuk mempelajari lebih dalam dapat mengunjungi tautan berikut:

Membuat File EPUB

Membaca buku selalu menyenangkan. Dikombinasikan dengan ebook reader yang nyaman dipakai, maka kita bisa menyimpan dan membaca banyak buku elektronik secara praktis dan hemat.

Selama ini kita mengenal file PDF sebagai format buku elektronik yang paling umum. Tetapi sebenarnya, format file yang standar untuk buku elektronik adalah EPUB. Dalam pengalamanku, file EPUB umumnya berukuran jauh lebih kecil dibanding PDF dan lebih enak dibaca di ebook reader. Kenyamanan ini terutama karena teks dalam file EPUB lebih fleksibel: dapat diatur tipografinya sedemikian rupa sehingga gampang menyesuaikan kebutuhan kita. Ingin font lebih besar, bisa. Ingin jarak antar spasi lebih kecil, bisa. PDF tidak bisa seperti ini.

Penasaran, kemarin aku mencari tahu bagaimana cara membuat file EPUB. Ternyata tidak terlalu sulit.

Pada intinya, konten sebuah EPUB diformat dengan XHTML, sama dengan yang digunakan di Web. Jadi, kalau kamu paham dengan XHTML (tidak terlalu sulit untuk dipelajari), kamu otomatis bisa membuat file EPUB.

Garis besarnya begini. Teks buku yang ingin kita buat diformat biasa dengan XHTML. Tiap satu bab bisa dimasukkan dalam satu file XHTML, jadi nanti ada beberapa file XHTML. Menampilkan gambar pun bisa, sistemnya sama menggunakan tag img di XHTML. Dan karena ini XHTML, maka kita bisa memakai CSS pula untuk stylingnya.

Setelah file XHTML-nya lengkap, tinggal tambahkan beberapa file tertentu. File-file ini bertugas mengatur daftar isi, memberi metadata buku, dan sebagainya. Untuk ini sudah ada tutorial yang bisa diikuti. Tidak susah, dan kita bisa memakai file-file contoh yang disediakan di tutorial tersebut. Tinggal copy-paste dan edit sebentar.

Setelah file-file tambahan tersedia, tinggal di-zip semuanya. File zip tadi diubah ekstensinya menjadi .epub, dan selesai sudah! File sudah bisa langsung dimasukkan ke ebook reader, atau diconvert menggunakan Calibre menjadi format-format yang lain.

Kindle, misalnya, tidak bisa membaca EPUB. Jadi perlu diconvert dulu dari EPUB menjadi MOBI yang dikenali Kindle.

Kesimpulannya, membuat ebook berformat EPUB ternyata tidak susah. Dan sepertinya lebih bagus jika kita memulai membuat buku dengan format ini. Karena formatnya standar, ia mudah dikonversi menjadi format lain (mobi, pdf, dan lain-lain) menggunakan Calibre. Jadi kita tidak perlu bekerja dua kali untuk membuat format-format lainnya.

Sebenarnya ada juga aplikasi yang membantu kita membuat file EPUB (Adobe InDesign, misalnya). Tetapi aku sudah coba membuat dengan teks editor biasa dan tidak susah sama sekali.

Tertarik? Ikuti tutorial ini.

Selalu ada, selalu siap sedia.

Kemarin aku menginstal Carbodroid di teleponku. Aplikasi berpenampilan lucu dan sederhana ini berguna untuk mencatat dan memperlihatkan seberapa banyak kita minum air setiap hari. Akhir-akhir ini aku merasa kurang enak di badan yang rasa-rasanya adalah gejala dehidrasi, jadi aku berharap aplikasi ini dapat membantu.

Aplikasi semacam ini rasanya sangat cocok dan hanya cocok digunakan di smartphone, sebuah device yang mudah dan selalu dibawa ke mana-mana. Sulit membayangkan seseorang bisa rutin mencatat konsumsi air minum jika aplikasi ini ada di desktop. Di tablet pun rasanya terlalu repot.

Di sini keunikan sebuah device kecil semacam smartphone yang membedakan dengan device lain-lainnya: selalu dibawa pemiliknya, dan bisa digunakan sewaktu-waktu secara instan.

Poin dua ini juga penting. Sebuah laptop, misalnya, dari kondisi mati sampai bisa digunakan masih makan waktu beberapa menit. Di smartphone, tinggal unlock, buka aplikasi, jalankan fungsinya, selesai. Cukup beberapa detik.

Para pengembang aplikasi mobile device bisa mengamati kedua keunikan tersebut untuk melihat peluang-peluang baru: aplikasi bagaimana yang bisa berguna di sebuah alat yang selalu ada dan selalu siap sedia?