Arsip | Opini RSS for this section

Selalu ada, selalu siap sedia.

Kemarin aku menginstal Carbodroid di teleponku. Aplikasi berpenampilan lucu dan sederhana ini berguna untuk mencatat dan memperlihatkan seberapa banyak kita minum air setiap hari. Akhir-akhir ini aku merasa kurang enak di badan yang rasa-rasanya adalah gejala dehidrasi, jadi aku berharap aplikasi ini dapat membantu.

Aplikasi semacam ini rasanya sangat cocok dan hanya cocok digunakan di smartphone, sebuah device yang mudah dan selalu dibawa ke mana-mana. Sulit membayangkan seseorang bisa rutin mencatat konsumsi air minum jika aplikasi ini ada di desktop. Di tablet pun rasanya terlalu repot.

Di sini keunikan sebuah device kecil semacam smartphone yang membedakan dengan device lain-lainnya: selalu dibawa pemiliknya, dan bisa digunakan sewaktu-waktu secara instan.

Poin dua ini juga penting. Sebuah laptop, misalnya, dari kondisi mati sampai bisa digunakan masih makan waktu beberapa menit. Di smartphone, tinggal unlock, buka aplikasi, jalankan fungsinya, selesai. Cukup beberapa detik.

Para pengembang aplikasi mobile device bisa mengamati kedua keunikan tersebut untuk melihat peluang-peluang baru: aplikasi bagaimana yang bisa berguna di sebuah alat yang selalu ada dan selalu siap sedia?

Jangan lagi katakan “Klik di www.alamatkita.com”

Sering aku melihat di iklan saat mereka menunjukkan sebuah URI.

“Klik http://www.alamatkita.com,” katanya.

Atau, “log on di http://www.alamatkita.com”

Para penulis iklan, tolong berhenti menulis seperti ini.

Kenapa? Karena ini tidak masuk akal.

Penggunaan kata “klik” itu tidak tepat. Aku harus klik di mana? Klik adalah sebuah aktivitas yang membutuhkan objek, tapi iklan kalian tidak menunjukkan di mana objek tersebut. Apa aku harus klik di billboard? Di TV?

Dan ingat bahwa “klik” merujuk pada aktivitas yang dilakukan dengan mouse. Tidak semua perangkat yang bisa mengakses internet menggunakannya. Pengguna smartphone, misalnya. Tidak ada aktivitas “klik” di situ.

Atau bagaimana dengan orang yang menggunakan perangkat bantu seperti screen reader? Mereka juga tidak memakai mouse.

Log on juga belum tentu tepat; tidak masuk akal jika ternyata situsmu tidak memiliki fitur tersebut.

Lalu alternatifnya apa? Aku usulkan satu kata yang simpel, pendek, sudah dipahami secara umum, dan secara teknis tepat:

“Buka”.

Respect Your Timeline! Cara Efisien Memanfaatkan Twitter dan Facebook

Timeline adalah fitur yang utama kita pakai sehari-hari di Twitter dan Facebook. Intinya sama, deretan update terbaru dari orang-orang yang kita ikuti. Dan dari pengalaman saya, rasio noise-to-signal semakin meningkat makin banyak orang yang muncul di situ. Keluhan, opini tidak jelas, berita tidak penting banyak bermunculan yang tentunya sangat mengganggu.

Here’s my thoughts on that matter.

Di Facebook, kita bisa menyembunyikan update status dari orang-orang yang “mengganggu” dengan cara meletakkan kursor pada di atas status yang bersangkutan dan memilih pilihan “Hide” yang muncul di sisi kanan status tersebut. Update dari aplikasi-aplikasi nggak penting seperti kuis-kuis Facebook juga bisa disembunyikan dengan cara yang sama.

(Cara tersebut hanya bisa dilakukan di versi full Facebook. Versi Mobile, Lite dan iPhone tidak bisa. Meski demikian, sekali disembunyikan, mereka-mereka juga tidak akan muncul di versi Facebook manapun.)

Juga adalah ide yang sangat bagus untuk hanya menerima friend request dari orang-orang yang kamu kenal. Masalahnya begini. Kalau kamu menerima siapa saja, timeline-mu akan penuh oleh hal-hal tidak relevan dari orang-orang yang tidak kamu kenal, bisa jadi update yang menarik dan penting dari kenalan atau relasi malah terlewat. Iya, memang Facebook mengizinkanmu membuat daftar tersendiri untuk orang-orang yang ingin kamu ikuti updatenya, tapi males banget kan? That’s more work than simply refusing friend requests from strangers.

Twitter juga begitu. Buat saya ada dua tipe pengguna Twitter:

  1.  Yang menggunakannya sungguh-sungguh untuk sekedar memberitahu dunia tentang dirinya saat itu (“kena macet di jalan!”)
  2. Yang menggunakannya untuk berinteraksi dan berbagi informasi bermanfaat (“jalan Hasanuddin macet, yang mau lewat sebaiknya cari jalur alternatif”).

Kuncinya adalah mengenali tipe mana orang-orang yang kamu ikuti. Tidak peduli seberapa terkenal orang itu, tidak penting seberapa banyak follower dia, selalu lebih bermanfaat untuk mengikuti orang-orang dari tipe kedua.

Ibaratnya makanan, lebih baik memilih makanan sehat daripada snack-snack kosong yang tidak bergizi dan membuang waktu. Jadi hargailah timeline-mu sendiri. Filter, filter, filter. It’s worth it.